1.         Pengertian Anak berkebutuhan Khusus
Pendidikan adalah hak seluruh warga negara tanpa membedakan  asal-usul, status sosial ekonomi, maupun keadaan fisik seseorang, termasuk anak-anak yang mempunyai kelainan sebagaimana di amanatkan dalam UUD 1945 pasal 31. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, hak anak untuk memperoleh pendidikan dijamin penuh tanpa adanya diskriminasi termasuk anak-anak yang mempunyai kelainan atau anak yang berkebutuhan khusus. Banyak istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus, seperti disability, impairment, dan Handicap.
Heward mendefinisikan Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus.
Sedangkan menurut Zaenal Alimin dalam http://z-alimin. blogspot.com /2009/02/ penyandang- ketunaan- istilah-pengganti.html, Mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus adalah:
  Anak yang secara pendidikan memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini memiliki apa yang disebut dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan (barier to learning and development). Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan perkembang yang dialami oleh masing-masing anak


2.         Jenis dan Karakteristik Anak berkebutuhan Khusus
Terdapat banyak jenis anak yang berkelainan atau cacat yang memerlukan layanan khusus, dari anak yang tergolong gangguan fisik dengan jenis kelaianan cacat sejak kecil (konginental deformity), berbagai jenis cerebral palsy seperti jenis tremor, spastic, athetoid, ataxia dan lain sebagainya.
Anak dengan gangguan sensorik meliputi anak yang mengalami gangguan pendengaran dan kerusakan penglihatan. Sedangkan anak dengan gangguan mental adalah anak tunagrahita.
Setiap jenis anak memiliki ciri-ciri dan karakteristik masing-masing, begitu pula dengan anak berkebutuhan khusus, mereka memiliki ciri-ciri dan kekhasan tersendiri tergantung dari jenis kelainannya dan berat ringannya gangguan atau hambatan yang dialaminya.
Karakteristik anak berkebutuhan khusus berdasarkan jenis hambatannya, diantaranya :
a.         Karakteristik anak yang memiliki hambatan mental
Ellah mengemukakan (2005:24) bahwa anak yang memiliki hambatan mental ada dua kriteria, yakni anak yang memiliki penyimpangan intelektual subnormal di bawah rata-rata normal dan anak yang memiliki intelektual luar biasa tinggi (Intellectually superior).
Anak yang memiliki hambatan mental memiliki karakteristik yang berbeda antara anak yang memiliki penyimpangan intelektual subnormal di bawah rata-rata normal atau Tunagrahita dengan anak yang memiliki intelektual luar biasa tinggi atau sering disebut dengan anak berbakat.
Brown et al (http:/ /www. ditplb. or. id /profile. php?id =45) mengemukakan bahwa karakteristik anak tunagrahita antara lain:
a.    lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru, mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan, dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus.
b.    Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru.
c.    Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak tunagrahita berat.
d.   Cacat fisik dan perkembangan gerak. Kebanyakan anak denga tunagrahita berat mempunyai ketebatasab dalam gerak fisik, ada yang tidak dapat berjalan, tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangatsederhana, sulit menjangkau sesuatu , dan mendongakkan kepala.
e.    Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. Sebagian dari anak tunagrahita berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri, seperti: berpakaian, makan, dan mengurus kebersihan diri. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar.
f.     Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler, tetapi anak yang mempunyai tunagrahita berat tidak meakukan hal tersebut. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak tunagrahita dalam memberikan perhatian terhadap lawan main.
g.    Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. Banyak anak tunagrahita berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. Kegiatan mereka seperti ritual, misalnya: memutar - mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri, misalnya: menggigit diri sendiri, membentur-beturkan kepala, dll.

Berbeda dengan anak tunagrahita anak yang memiliki intelektual luar biasa atau berbakat memiliki karakteristik tersendiri seperti yang di ungkapkan oleh Taft dan Gelchrist (Ellah,2005:25) bahwa karakteristik anak berbakat diantaranya:
a)    Memiliki rasa ingin tahu yang besar
b)   Cenderung mengerjakan sesuatu dengan cara mereka sendiri
c)    Lebih menyukai kerja sendiri
d)   Senang bereksperimen tentang apa saja
e)    Aktif berimajenasi
f)    Mampu berfikir dan banyak cara untuk mencapai tujuan atau untuk memecahkan masalah
g)   Cenderung merespon atau bereaksi dengan cara yang tidak dapat diduga-duga
h)   Mampu menghasilkan ide-ide orsinil
i)     Sangat berani mengambil resiko
j)     Memiliki sensitivitas terhadap keindahan
k)   Memiliki ketajaman atau rasa humor yang tinggi
l)     Kurang tertarik pada detail
m) Kurang perhatian terhadap adaptasi sosial.
Pernyataan di atas merupakan salah satu karakteristik dari anak yang memiliki hambatan mental baik yang di atas rata-rata maupun di bawah rata-rata.
b.         Karakteristik anak dengan hambatan sensorik
Anak yang mengalami hambatan sensorik ini ada dua jenis kerusakan sensorik, yakni anak dengan kerusakan penglihatan (visualization impairment) dan anak yang mengalami kerusakan pendengaran (auditori impairment).
Anak yang memiliki hambatan penglihatan atau tunanetra disefinisikan oleh Scholl sebagai berikut: “Anak yang rusak penglihatannya yang walaupun dibantu dengan perbaikan, masih mempunyai pengaruh yang merugikan bagi anak yang yang bersangkutan(http://meilanikasim.wordpress.com /2009/05/27/anak-berkebutuhan khusus/).
Anak tunanetra memiliki karakteristik secara psikis, fisik, sosial maupun intelektual. Lowenfeld dalam Djadja Rahardja (http://www.dj-rahardja.blogspot.com/2008) menggambarkan dampak kebutaan dan low vision terhadap perkembangan kognitif, dengan mengidentifikasi keterbatasan yang mendasar pada anak dalam tiga area berikut ini:
1)      Tingkat dan keanekaragaman pengalaman. Ketika seorang anak mengalami ketunanetraan, maka pengalaman harus diperoleh dengan mempergunakan indera-indera yang masih berfungsi, khususnya perabaan dan pendengaran. Tetapi bagaimanapun indera-indera tersebut tidak dapat secara cepat dan menyeluruh dalam memperoleh informasi, misalnya ukuran, warna, dan hubungan ruang yang sebenarnya bisa diperoleh dengan segera melalui penglihatan. Tidak seperti halnya penglihatan, ketika mengeksplorasi benda dengan perabaan merupakan proses dari bagian ke kesuluruhan, dan orang tersebut harus melakukan kontak dengan bendanya selama dia melakukan eksplorasi tersebut. Beberapa benda mungkin terlalu jauh (misalnya bintang, dan sebagainya), terlalu besar (misalnya gunung, dan sebagainya), terlalu rapuh (misalnya binatang kecil, dan sebagainya), atau membahayakan (misalnya api, dan sebagainya) untuk diteliti dengan perabaan.
2)      Kemampuan untuk berpindah tempat. Penglihatan memungkinkan kita untuk bergerak dengan leluasa dalam suatu lingkungan, tetapi tunanetra mempunyai keterbatasan dalam melakukan gerakan tersebut. Keterbatasan tersebut mengakibatkan keterbatasan dalam memperoleh pengalaman dan juga berpengaruh pada hubungan sosial. Tidak seperti anak-anak yang lainnya, anak tunanetra harus belajar cara berjalan dengan aman dan efisien dalam suatu lingkungan dengan berbagai keterampilan orientasi dan mobilitas.
3)      Interaksi dengan lingkungan. Jika anda berada di suatu tempat yang ramai, anda dengan segera bisa melihat ruangan dimana anda berada, melihat orang-orang disekitar, dan anda bisa dengan bebas bergerak di lingkungan tersebut. Orang tunanetra tidak memiliki kontrol seperti itu. Bahkan dengan keterampilan mobilitas yang dimilikinya, gambaran tentang lingkungan masih tetap tidak utuh.

Karakteristik anak yang mengalami hambatan pendengaran (Auditori Impairment) menurut Telford dan Sawrey dalam Ellah (2005:29) antara lain:
1)      Ketidakmampuan memusatkan perhatian yang sifatnya kronis
2)      Kegagalan merespon jika diajak berbicara
3)      Terlambat berbicara atau melakukan kesalahan artikulasi.
4)      Mengalami keterbelakangan di sekolah.

Menurut Direktorat pendidikan Luar Biasa (http://www.ditplb. or.id/profile.php?id=44 2006) bahwa karakteristik anak yang mengalami hambatan pendengaran diantaranya:
1)      Kemampuan verbal (verbal IQ) anak tunarungu lebih rendah dibandingkan kemampuan verbal anak mendengar.
2)      Namun performance IQ anak tunarungu sama dengan anak mendengar.
3)      Daya ingat jangka pendek anak tunarungu lebih rendah daripada anak mendengar terutama pada informasi yang bersifat suksesif/berurutan.
4)      Namun pada informasi serempak antara anak tunarungu dan anak mendengar tidak ada perbedaan.
5)      Daya ingat jangka panjang hampir tak ada perbedaan, walaupun prestasi akhir biasanya tetap lebih rendah


c.         Karakteristik anak yang mengalami hambatan neuromotor atau fisik
Anak yang mengalami hambatan neuromotor atau fisik adalah mereka yang mengalami hambatan dalam gerak atau fisik yang disebabkan oleh gangguan neurologis, bawaan, infeksi dan faktor kelainan di otak.
Hambatan neuromotor jelas terlihat ketika anak bergerak, berjalan, dan melakukan kegiatan sehari-hari. Misalnya dalam kegiatan belajar menulis, olahraga, menari, ataupun kegiatan keterampilan dan lain sebagainya. Sehingga memerlukan pendekatan  khusus dalam pembelajaran yang diberikan kepadanya.
Untuk itu kita selaku guru harus mengenal ciri-ciri atau karakteristik dari anak ini, agar pembelajaran yang diberikan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukannya. Karakteristik anak yang mengalami hambatan neuromotor atau fisik menurut Sri widati dalam Ellah (2005:30) adalah sebagai berikut:
1)      Adanya gangguan motorik yang berupa kekakuan, kelumpuhan, gerakan-gerakan yang tidak dapat dikendalikan, gerakan ritmis, dan gangguan keseimbangan.
2)      Adanya gangguan sensoris, yaitu kelainan penglihatan, pendengaran dan kemampuan kesan gerak dan raba.
3)      Tingkat kecerdasan yang bervariasi. Sekitar 45 % mengalami keterbelakangan mental, dan 35 % mempunyai tingkat kecerdasan normal serta di atas rata-rata. Tidak ditemukan hubungan secara langsung tingkat kelainan fisik dengan kecerdasan anak.
4)      Mengalami gangguan atau keterbatasan dalam kemampuan kognisi, yang meliputi pengenalan, pemahaman, penghayatan dan interpretasi terhadap informasi lingkungan.
5)      Mengalami gangguan bicara yang disebabkan oleh kelainan motorik otot-otot bicara, kurang dan tidak terjadinya proses interaksi dengan lingkungan, serta kerusakan pada area tertentu di dalam otak yang berfungsi sebagai pusat bicara sehingga mempengaruhi proses bicara.
6)      Mengalami kelainan emosi dan penyesuaian sosial. 

d.        Karakteristik anak yang mengalami hambatan perilaku sosial
Anak yang mengalami hambatan emosi dan sosial adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat pada umumnya, sehingga mempengaruhi kegiatan pendidikannya dan memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Karakteristik anak yang mengalami hambatan emosi dan sosial menurut The Individual with Disabilities Education Act (IDEA) antara lain:
1)        Hiperaktif (rentang perhatian pendek, impulsif);
2)        Agresi / perilaku yang merugikan diri sendiri (bertindak keluar, berkelahi);
3)   Penarikan (kegagalan untuk memulai interaksi dengan orang lain; mundur dari pertukaran interaksi sosial, rasa takut atau kecemasan yang berlebihan);
4)        Ketidakdewasaan (tidak pantas menangis, marah-marah, mengatasi miskin keterampilan); dan Kesulitan  belajar  (performa akademis tingkat kelas bawah). (http://www.parentpals.com/gossamer/ pages /Detailed /685.html:2001)
Sedangkan menurut Direktorat pendidikan luar biasa (http://www .ditplb.or .id/profile. php?id= 47:2006) bahwa karakterisitik anak yang memiliki hambatan perilaku dan sosial antara lain:
1.        Bersikap membangkang,
2.        Mudah terangsang emosinya,
3.        Sering melakukan tindakan aggresif,
4.        Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum.

e.         Karakteristik anak yang mengalami hambatan komunikasi
Istilah gangguan komunikasi meliputi berbagai masalah dalam bahasa, ucapan, dan pendengaran. Seperti yang dikemukakan oleh National Dissemination Center for Children with Disabilities dalam http:// www. Childdevelopment info. com/ disorders/ children with communication disorders.shtml:2009  bahwa:
  Gangguan bicara dan bahasa termasuk masalah artikulasi, gangguan suara, masalah kelancaran (seperti gagap), aphasia (kesulitan dalam menggunakan kata-kata, biasanya akibat cedera otak), dan keterlambatan dalam berbicara dan  atau bahasa. Keterlambatan bicara dan bahasa mungkin disebabkan oleh banyak faktor, termasuk faktor-faktor lingkungan atau gangguan pendengaran

Berdasarkan pengertian di atas gangguan pendengaran merupakan salah satu penyebab dari gangguan komunikasi ini karena komunikasi akan berjalan apabila adanya hubungan timbal balik antara komunikator dan komunikan. Gangguan pendengaran meliputi pendengaran dan ketulian. Tuli dapat didefinisikan sebagai hilangnya pendengaran yang dapat menyulitkan komunikasi. 
Seorang anak yang mengalami hambatan komunikasi memiliki berbagai karakteristik. Menurut National Dissemination Center for Children with Disabilities (http://www.child development info .com /disorders /children  with communication disorders.shtml:2009) karakteristik anak yang mengalami hambatan komunikasi antara lain:  ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk, lambat dan tidak dapat dipahami saat pidato, dan kesulitan  dalam pengucapan sintaks dan artikulasi

Selain itu menurut Ellah (2005:33) mengungkapkan bahwa “karakteristik anak yang mengalami gangguan komunikasi berkisar pada kemampuan berfikir, bernalar masalah-masalah sosial-emosional (psikis) dan komunikasi”
Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. “Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggap sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya” (Mahendra,2005:6) . Pada kenyataannya, pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sangat luas. Titik perhatianya adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, pendidikan jasmani berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainya yaitu hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwanya.
Fokus pendidikan jasmani pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikan unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkaitan dengan perkembangan total manusia. Pada dasarnya pendidikan jasmani, dengan memanfaatkan alat gerak manusia, dapat membuat aspek mental dan moral pun ikut berkembang.Dalam konteks pendidikan inklusif, pelayanan pendidikan jasmani diberikan kepada semua anak dengan karakteristik yang berbeda – beda termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Di sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif terdapat peserta didik yang mengalami beranekaragam hambatan, baik hambatan penglihatan, pendengaran, motorik, komunikasi, perhatian, emosi, perilaku, sosial, dan sebagainya.
Mereka berhak atas  pendidikan jasmani yang dapat mengakomodasi hambatan dan kebutuhan yang mereka miliki. Oleh karena itu, pembelajaran pendidikan jasmani menjadi lebih kompleks bagi guru pendidikan jasmani dalam mengupayakan agar semua kebutuhan anak akan gerak dapat terpenuhi dan dapat meningkatkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Pada kenyataannya tidak semua ABK mendapatkan layanan pendidikan jasmani sesuai dengan kebutuhan atau hambatan yang dimilikinya, karena tidak semua guru pendidikan jasmani memahami dan mengetahui layanan yang harus diberikan kepada ABK.
Pernyataan di atas sejalan dengan hasil penelitian Gusmawan (2006:i). dalam karyanya yang berjudul ‘Problematika Pembelajaran Pendidikan Jasmani bagi Tunanetra di Sekolah Umum’ yang menyatakan bahwa “Guru pendidikan jasmani tidak memahami pelaksanaan pendidikan jasmani adaptif, sehingga pembelajaran yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan dan hambatan yang dimiliki oleh ABK” Bahkan di saat peneliti melakukan observasi pendahuluan peneliti menemukan ada diantara guru pendidikan jasmani yang tidak mengikutsertakan siswa ABK dalam kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani mereka hanya bermain sesuka hati tanpa ada perhatian dari guru dan  hanya membiarkan mereka menonton teman-temannya yang sedang berolahraga di pinggir lapangan olahraga.
Kebutuhan gerak ABK lebih besar daripada siswa lainnya, karena ABK mengalami hambatan dalam merespon rangsangan yang diberikan lingkungan untuk melakukan gerak, meniru gerak dan bahkan ada yang memang fisiknya terganggu sehingga ia tidak dapat melakukan gerakan yang terarah dengan benar Hal ini terjadi karena mereka memiliki masalah dalam sensorisnya, motoriknya, belajarnya, dan tingkah lakunya yang dapat menghambat perkembangan fisik siswa tersebut. Seperti yang di ungkapkan oleh Irham Hosni (2003:31)  bahwa:
    Anak berkebutuhan khusus memiliki masalah dalam sensorisnya, motoriknya, belajarnya, dan tingkah lakunya. Semua ini mengakibatkan terganggunya perkembangan fisik anak. Hal ini karena sebagian besar ABK mengalami hambatan dalam merespon rangsangan yang diberikan lingkungan untuk melakukan gerak, meniru gerak dan bahkan ada yang memang fisiknya terganggu sehingga ia tidak dapat melakukan gerakan yang terarah dengan benar

Pernyataan di atas menggambarkan akan pentingnya gerak dalam perkembangan seorang individu, apabila seorang inividu memiliki kemampuan gerak yang baik maka perkembangan fisiknya akan baik pula. Dengan begitu gerak memiliki fungsi lain bagi ABK, yaitu membantu perkembangan fisik, melatih untuk merespon rangsangan dari lingkungan dan membiasakan gerakan agar terarah dengan benar. Dengan kata lain melakukan gerakan bagi ABK sama dengan melatih motorik halus dan kasar mereka untuk mengurangi hambatan geraknya. Selain itu gerak juga dapat digunakan sebagai media untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan dari lingkungan. Oleh karena itu pendidikan jasmani bagi ABK sangatlah penting,  walaupun demikian program yang di berikan harus di sesuaikan dengan kebutuhan dan hambatan ABK itu sendiri agar hasilnya dapat optimal. Apabila program pembelajaran yang di berikan oleh guru tidak berorientasi kepada kebutuhan dan hambatan ABK, di khawatirkan perkembangan fisik ABK tidak berkembang dengan baik dan bahkan bisa saja menjadi masalah baru baginya.
Samsudin (2008:2) mengemukakan bahwa:
  Pendidikan  jasmani merupakan suatu  proses  pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan  motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotor, kognitif dan afektif siswa.

Pernyataan di atas menyatakan bahwa pendidikan jasmani merupakan sebuah  proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani untuk meningkatkan kemampuan fisik, intelektual, sosial maupun emosional dalam  rangka meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah baik  jasmani, psikomotor, kognitif dan afektif siswa’. Tetapi di dalam pelaksanaannya ditemukan adanya kesulitan yang dialami oleh beberapa individu yang unik sehingga mereka tidak terjangkau oleh pendidikan jasmani. 
Mereka tetap sangat membutuhkan layanan pendidikan jasmani, oleh karena itu di butuhkan bentuk pendidikan jasmani yang dapat mengakomodasi setiap individu sesuai dengan keunikannya masing-masing. Pendidikan jasmani seperti itu disebut dengan pendidikan jasmani adaptif.
1.         Pengertian Pendidikan Jasmani Adaptif
Pendidikan jasmani adaptif menurut Sherril dalam Sriwidati dan Murtadlo (2007:3) adalah sebagai berikut:
   Pendidikan jasmani adaptif didefinisikan sebagai satu sistem penyampaian pelayan yang komprehensif yang dirancang untuk mengidentifikasi, dan memecahkan masalah dalam ranah psikomotor. Pelayanan tersebut mencakup penilaian, program pendidikan individual (PPI), pengajaran bersifat pengembangan dan/atau yang disarankan, konseling dan koordinasi dari sumber atau layanan yang terkait untuk memberikan pengalaman pendidikan jasmani yang optimal kepada semua anak dan pemuda. 

Menurut Winnick dalam Sriwidati dan Murtadlo (2007:3) ‘Pendidikan Jasmani Adapif itu adalah suatu program yang dibuat secara individual berupa kegiatan perkembangan, latihan, permainan, ritme, dan olahraga yang dirancang memenuhi kebutuhan pendidikan jasmani untuk individu-individu yang unik’.
Syarifuddin, & Muhadi dalam Sriwidati dan Murtadlo (2007:4) mengemukakan bahwa:
   Pendidikan jasmani adaptif adalah suatu proses mendidik melalui aktivitas gerak untuk laju pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun psikis dalam rangka pengoptimalan seluruh potensi kemampuan, keterampilan jasmani yang disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan anak, kecerdasan , kesegaran jasmani, sosial, kultural, emosional, dan rasa keindahan demi tercapainya tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya

Dari beberapa definisi di atas menggambarkan bahwa pendidikan jasmani adaptif adalah suatu program pembelajaran dalam memenuhi kebutuhan psikomotor anak yang dirancang sedemikian rupa sesuai dengan keunikan anak tersebut
2.        Tujuan Pendidikan Jasmani Adaptif
Crowe dalam Abdoellah (1996;4) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan jasmani adaptif bagi anak berkebutuhan khusus sebagai berikut:
(1) Untuk menolong siswa mengkoreksi kondisi yang dapat diperbaiki; (2) untuk membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi apapun yang memperburuk keadaannya melalui pendidikan jasmani tertentu;(3) untuk memberikan kesempatan pada siswa mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olahraga dan aktivitas jasmani, waktu luang yang bersifat rekreasi;(4) untuk menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya;(5) untuk membantu siswa melakukan penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan memiliki arga diri;(6) untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan apresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik;(7) untuk menolong siswa memahami dan menghargai macam olahraga yang dapat diminatinya sebagai penonton.


Selain itu Tarigan (2000:10), menyatakan bahwa:
   tujuan pendidikan jasmani dan kesehatan adaptif bagi anak berkebutuhan khusus adalah untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan jasmani, keterampilan gerak, sosial, dan intelektual. Disamping itu, proses pendidikan itu penting untuk menanamkan nilai-nilai dan sikap positif terhadap keterbatasan kemampuan baik dari segi fisik maupun mentalnya sehingga mereka mampu bersosialisasi dengan lingkungan dan memiliki rasa percaya diri dan harga diri

Sedangkan menurut Furqon dalam Sukardin (2006;5) manfaat pendidikan jasmani bagi anak berkebutuhan khusus adalah:
  Dapat membantu mengenali kelainannya dan mengarahkannya pada individu-individu atau lembaga-lembaga yang terkait; (2) dapat member kebahagiaan bagi anak dengan kebutuhan khusus, member pengalaman bermain yang menyenangkan; (3) dapat membantu siswa mencapai kemampuan dan latihan fisik sesuai dengan keterbatasannya;(4) dapat member banyak kesempatan mempelajari keterampilan yang sesuai dengan orang-orang yang memiliki kelainan untuk meraih sukses;(5) pendidikan jasmani dapat berperan bagi kehidupan yang lebih produktif bagi anak dengan kebutuhan khusus dengan mengembangkan kualitas fisik yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kehidupan sehari-hari

3.        Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani Adaptif
Siapa sajakah yang termasuk peserta pendidikan jasmani adaptif, Perlu kita identifikasi dan mengategorikannya sesuai dengan kemampuan dan karakteristik anak tersebut. Karena prinsip pengajaran Pendidikan jasmani adaptif adalah Pengajaran yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik.
Menurut IDEA ( http:// en. wikipedia.org/ wiki/ Adapted Physical Education, 2009) anak-anak yang harus mendapatkan layanan pendidikan jasmani adaptif sebagai berikut:
(a) Siswa Autis
(b) Siswa yang mengalami hambatan penglihatan (Tunanetra)
(c) Siswa yang mengalami hambatan pendengaran dan komunikasi (Tunarungu)
(d)Siswa yang mengalami hambatan emosi ( Tunalaras)
(e) Siswa Tunagrahita
(f)  Siswa yang mengalami Hambatan fisik (Tunadaksa)
(g) Siswa yang memiliki hambatan belajar (LD)
(h) Dan siswa yang memiliki hambatan lainnya seperti epilepsy, HIV,ADD dan ADHD, Asma, Leukimia dan lain sebagainya

Selain itu menurut Undang-undang rehabilitasi Amerika serikat (Section 504 of the Rehabilitation Act of 1973) siswa yang berhak mendapatkan layanan pendidikan jasmani adaptif adalah: a person with a disability is anyone who has a physical or mental impairment that limits one or more major life activities, has a record of impairment, or is regarded as having an impairment . (http://en.wikipedia.org/wiki/ Adapted Physical_Education,2009)
Jadi menurut undang-undang tersebut yang termasuk mendapatkan layanan pendidikan jasmani adaptif adalah siswa yang memiliki hambatan baik fisik maupun mental, atau memiliki satu atau lebih hambatan yang bisa mengganggu aktivitas hidupnya, memiliki riwayat hambatan yang dimilikinya atau dianggap memiliki hambatan.

4.        Strategi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif
Proses pencapaian tujuan pengajaran membutuhkan manajemen pengajaran termasuk penerapan model dan strategi pembelajaran yang tepat, baik ditinjau dari substansi atau tugas-tugas ajar maupun karakteristik peserta didik.
a.         Materi dan Program pendidikan jasmani adaptif
1)        Pemilihan materi
Pemilihan materi yang tepat, membantu dalam memperbaiki penyimpangan postur tubuh, meningkatkan kekuatan otot, kelincahan, kelenturan dan meningkatkan kebugaran jasmani. Pelaksanaan kegiatan olahraga secara teratur dengan beban yang cukup, sangat membantu dalam usaha mencapai kebugaran jasmani tersebut.
Perlu diketahui bahwa kekuatan otot akan bertambah bila sering digunakan, dan akan berkurang bila tidak pernah dilatih secara teratur. Demikian juga kelenturan, kelincahan, daya tahan dan lain-lain, akan meningkat bila dilatih secara sistematis dalam pembelajaran pendidikan jasmani.
Setiap siswa mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain dan oleh sebab itu program pembelajaran akan lebih efektif bila diklasifikasikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kecacatannya.
2)        Program pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus
Merencanakan dan melaksanakan program pendidikan jasmani bagi siswa berkebuthan khusus, memerlukan pemikiran dan ketelitian yang cukup tinggi dan rasional. Program pembelajaran akan berhasil apabila fokus kegiatan ditujukan pada perbaikan tingkat kemampuan fisik dan ketidakmampuan fisik siswa serta meminimalisir hambatan-hambatan yang dihadapi dalam kehidupannya.
Secara umum materi pembelajaran pendidikan jasmani bagi siswa berkebutuhan khusus sama dengan materi pembelajaran siswa lainnya. Namun yang membedakannya adalah strategi dan model pembelajarannya yang berbeda dan disesuaikan dengan jenis dan tingkat kecacatannya. Artinya jenis aktivitas olahraga yang terdapat dalam kurikulum dapat diberikan dengan berbagai penyesuaian.
Program pendidikan jasmani untuk anak berkebutuhan khusus menurut Tarigan (2000:43), dibagi menjadi tiga kategori seperti tertera pada table berikut :
Tabel 2.1
Tiga Kategori Program Pendidikan Jasmani
Menurut Tarigan
NO
KATEGORI
AKTIVITAS GERAK
1.
Pengembangan gerak
-   Gerakan-gerakan yang tidak berpindah tempat
-   Gerakan-gerakan yang berpindah tempat
-   Gerakan-gerakan keseimbangan
2.
Olahraga
dan Permainan
-  Olahraga permainan yang bersifat rekreatif
-  Permainan lingkaran
-  Olahraga dan permainan beregu
-  Olahraga senam dan aerobic
-  Kegiatan yang menggunakan music dan tari
-  Olahraga permainan di air
-  Olahraga dan permainan yang menggunakan meja
3.
Kebugaran dan kemampuan  gerak
-  Aktivitas yang meningkatkan kekuatan
-  Aktivitas yang meningkatkan kelentukan
-  Aktivitas yang meningkatkan kelincahan
-  Aktivitas yang meningkatkan kecepatan
-  Aktivitas yang meningkatkan daya tahan

b.        Pembelajaran Individual
Pembelajaran individual dimaksudkan agar kebutuhan setiap individu dapat terpenuhi sesuai dengan jenis dan tingkat kecacatannya. Pembelajaran individual dalam kontek ini bukan berarti melakukan pembelajaran kepada siswa satu demi satu. Tetapi dalam proses pembelajaran tersebut, guru pendidikan jasmani perlu merencanakan aktivitas jasmani yang disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis kecacatan siswa.
Agar program dapat memenuhi kebutuhan setiap individu, guru pendidikan jasmani seyogianya memperhatikan berbagai factor yang meliputi : pemahaman terhadap individu, kebutuhan-kebutuhan individu, keterbatasan- keterbatasan individu dan kemampuan dan kelebihan individu serta pengembangan strategi yang tepat, sangat menentukan dalam mencapai tujuan.

2.        Metode Pembelajaran Pendidikan Jasmani
Untuk membantu para guru pendidikan jasmani mengembangkan strategi pembelajaran pada siswa berkebutuhan khusus diperlukan metode yang tepat sebagai cara dalam menyampaikan materi kepada siswa. Menurut Tarigan (2000:45) ada 3 macam metode pembelajaran pendidikan jasmani bagi siswa berkebutuhan khusus: 1. Metode bagian, 2. Metode keseluruhan, dan Metode gabungan.
 a.         Metode Bagian
Dalam metode bagian, tugas-tugas gerak dipelajari dan dilatih bagian demi bagian. Biasanya metode ini diterapkan apabila struktur gerak cukup kompleks sehingga diperkirakan dengan mempelajari bagian demi bagian akan memberikan hasil optimal.
Misalnya dalam pembelajaran mendribel, menembak dan mengoper dalam olahraga basket, dilakukan pendekatan bagian perbagian sebelum diberikan pengalaman bermain basket secara utuh.
Artinya setelah siswa mempelajari dan menguasai bagiab-bagian dari suatu aktivitas gerak dalam olahraga permainan, maka selanjutnya bagian-bagian tersebut digolongkan kembali menjadi aktivitas yang lengkap dan menyeluruh.
b.    Metode Keseluruhan
Pembelajaran dengan metode keseluruhan merupakan aktivitas gerak yang dilakukan secara keseluruhan. Metode ini biasanya digunakan untuk melatih teknik dan gerakan yang sederhana, atau apabila keseluruhan serangkaian gerak dari satu teknik olahraga, tidak bisa dipecah menjadi bagian-bagian.
Metode keseluruhan cukup efektif digunakan untuk anak berkebutuhan khusus, namun tergantung dari berat ringannya tugas gerakan yang dilakukan dengan kondisi kecacatan anak. Semakin rendah tingkat kompleksitas tugas gerakan secara keseluruhan, dan semakin kecil taraf hambatan yang diderita anak, maka pendekatan ini akan berlangsung lebih baik.
Bagi anak yang terbelakang mental yang cukup berat, seyogianya diberikan pelajaran atau latihan keterampilan gerak secara keseluruhan. Misalnya tugas gerak melempar dalam bola tangan atau bola basket. Pemecahan suatu struktur gerak atau pola gerak menjadi bagian-bagian, kurang bermanfaat bagi siswa yang kurang mampu memproses informasi dengan baik seperti anak yang mengalami keterbelakangan mental.
c.         Metode gabungan
Memodifikasi metode dengan cara mengubahnya menjadi kombinasi keseluruhan – bagian – keseluruhan, umumnya memberikan kemudahan dan keuntungan bagi siswa berkebutuhan khusus.
Semakin simpel langkah-langkah pembelajaran yang diberikan kepada anak, semakin besar peluangnya untuk menguasai tugas-tugas gerak yang diajarkan. Kecepatan laju penyampaian instruksi dan jumlah pengulangan serta reinforcement yang diberikan dalam proses pembelajaran, berbanding terbalik antara satu dengan yang lainnya terhadap kemajuan dan keberhasilan yang dicapai siswa berkebutuhan khusus.
Hal ini berarti semakin lambat penyampaian instruksi yang dilakukan guru, dan semakin banyak frekuensi pengulangan oleh siswa, maka semakin baik kemajuan yang dicapai oleh siswa berkebutuhan khusus.
 d.        Penyampaian Penjelasan dan peragaan
Metode ini sudah lazim dipergunakan dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani. Namun faktor penting dalam penerapannya adalah penekanan pada kombinasi penjelasan (baik secara verbal, tertulis maupun manual) yang dilanjutkan dengan peragaan atau demonstrasi tugas gerak yang sebenarnya.
Melalui penjelasan dan demonstrasi, para siswa berkebutuhan khusus lebih terdorong dan termotivasi untuk melakukan tugas gerak, sehingga memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh hasil dalam setiap pembelajaran.
Bagi sebagian anak, terutama yang memiliki hambatan bicara, hambatan pendengaran dan keterbelakangan mental, penjelasan-penjelasan yang diberikan secara sistematis dan runtut kelihatannya kurang bermanfaat. Namun demikian, peragaan dan demonstrasi yang dapat dilihat dan diamati dari berbagai arah, sangat membantu terhadap pemantapan persepsi tentang suatu tugas gerak yang tidak dapat mereka tangkap melalui penjelasan.
Sebaliknya, bagi anak-anak yang mengalami hambatan visual, akan lebih bermakna informasi melalui penjelasan dibanding melalui peragaan atau demonstrasi.
Untuk menghadapi kasus lainnya, diperlukan kreativitas dan kejelian guru dalam memilih suatu metode yang cocok sesuai dengan jenis dan tingkat kecacatan siswa.
 3.        Program Pendidikan Jasmani bagi Siswa berkebutuhan khusus
Program pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus tidaklah sama dengan siswa lainnya, karena setiap siswa memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda. Sehingga dibutuhkan program pembelajaran yang lebih khusus disesuaikan dengan kebutuhan siswa tersebut. Walaupun saat pelaksanaan pembelajaran bersama-sama dengan siswa lain, tetapi program yang harus diterapkan berbeda dengan program pembelajaran bagi siswa lainnya. Untuk memperoleh hasil pembelajaran yang maksimal maka diperlukan pengembangan maupun modifikasi pembelajaran dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan setiap siswa.
Tarigan (2000;49) mengungkapkan bahwa ada beberapa tehnik modifikasi yang dapat dilakukan pada saat pembelajaran jasmani bagi siswa berkebutuhan khusus. diantaranya: modifikasi pembelajaran, dan ‘ modifikasi lingkungan belajar’.
a.         Modifikasi Pembelajaran
Tarigan (2000;49) mengungkapkan bahwa  “ untuk memenuhi kebutuhan para siswa berkebutuhan khusus dalam pembelajaran pendidikan  jasmani maka para guru seyogiyanya melakukan modifikasi atau penyesuaian-penyesuaian dalam pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan siswa”.
Jenis modifikasi dalam pembelajaran ini berveriasi dan bermacam-macam disesuaikan dengan kebutuhan dan keterbatasan siswa berkebutuhan khusus, tetapi tetap memiliki tujuan untuk memaksimalkan proses pembelajaran. Ada beberapa hal menurut Tarigan (2000;50) yang dapat dimodifikasi untuk meningkatkan pembelajaran diantaranya:
1)        Penggunaan Bahasa
Bahasa merupakan dasar dalam melakukan komunikasi. Sebelum pembelajaran dimulai, para siswa harus faham tentang apa yang harus dialakukan. Pemahaman berlangsung melalui jalinan komunikasi yang baik antara guru dengan siswa. Oleh karena itu, mutu komunikasai antara guru dan siswa perlu ditingkatkan melalui modifikasi bahasa yang dipergunakan dalam pembelajaran.
Sasaran dari modifikasi bahasa bukan hanya ditujukan bagi siswa yang mengalami hambatan berbahasa saja, tetapi bagi anak yang mengalami hambatan dalam memproses informasi, gangguan perilaku, mental, dan jenis hambatan-hambatan lainnya.
Contohnya pada siswa Autis, dia tidak bisa menerima dan merespon instruksi yang di berikan apabila instruksi yang diberikan terlalu panjang. Oleh karena itu  instuksi yang diberikan kepada siswa autis harus singkat tetapi jelas, seperti yang diungkapkan oleh Auxter (2001:504) Begitupula dengan siswa yang memiliki hambatan  mental  dengan tingkat kecerdasan di bawah rata-rata, mereka tidak dapat memproses sebuah instruksi yang terlalu panjang sehingga instruksi yang diberikan kepada mereka haruslah singkat dan jelas.
Berbeda dengan contoh di atas penggunaan bahasa bagi siswa tunanetra dan siswa yang berkesulitan belajar harus lengkap dan jelas, karena siswa tunanetra memiliki keterbatasan dalam menggambarkan lingkungan yang ada disekitarnya sehingga mereka membutuhkan penjelasan yang jelas dan lengkap.
Sementara bagi beberapa siswa berkesulitan belajar, ada diantara mereka yang memiliki hambatan saat menerima instruksi yang diberikan, contohnya siswa berkesulitan belajar yang memiliki gangguan perkembangan motorik saat dia diberikan instruksi untuk  menggerakan tangan kanan tetapi tanpa disadari dan disengaja tangan kiri yang dia gerakan. Seperti yang diungkapkan oleh Learner dalam Abdurrahman (2003:146) bahwa “siswa berkesulitan belajar memiliki gangguan perkembangan motorik antara lain kekurangan pemahaman dalam hubungan keruangan dan  arah, dan bingung lateralitas (confused laterality)”. oleh karena itu dia memerlukan  instruksi yang jelas bahkan kalau bisa guru juga ikut memperagakan gerakan yang diinstruksikan agar siswa tidak mengalami kesalahan dalam melakukan  gerakan dan  instruksi yang diberikan harus berurutan dari tahapan awal sampai akhir karena apabila ada gerakan yang runtutannya hilang kemungkinan besar dia akan bingung saat melakukan gerakan selanjutnya.
Sedangkan bagi siswa yang memiliki hambatan pendengaran guru harus menggunakan dua metode komunikasi yakni komunikasi verbal dan Isyarat yang sering disebut dengan komunikasi total. Komunikasi total ini dapat lebih memahami instruksi yang diberikan oleh guru, pada saat siswa tidak memahami bahasa isyarat dia bisa membaca gerak bibir dan juga sebaliknya.
2)        Membuat urutan tugas
Dalam melakukan tugas gerak yang diberikan oleh guru terkadang siswa melakukan  kesalahan dalam  melakukannya, hal ini diasumsikan bahwa para siswa memiliki kemampuan memahami dan membuat urutan gerakan-gerakan secara baik, yang  merupakan prasyarat dalam melaksanakan tugas gerak.
Seorang guru menyuruh siswa “ berjalan ke pintu” yang sedang dalam keadaan duduk. Untuk melaksanakan tugas gerak yang diperintahkan oleh guru tersebut, diperlukan langkah-langkah persiapan sebelum anak benar-benar melangkahkan kakinya menuju pintu.
Jika seorang siswa mengalami kesulitan dalam  membuat urutan-urutan peristiwa yang dialami, maka pelaksanaan tugas yang diperintahkan guru tersebut akan menjadi tantangan berat yang sangat berarti bagi dirinya. Oleh karena itu guru harus tanggap dan memberikan bantuan sepenuhnya baik secara verbal maupun manual pada setiap langkah secara beraturan.
3)        Ketersediaan Waktu Belajar
Dalam menghadapi siswa berkebutuhan khusus perlu disediakan waktu yang cukup, baik lamanya belajar maupun pemberian untuk memproses informasi. Sebab dalam kenyataan ada siswa berkebutuhan khusus yang mampu menguasai pelajaran dalam waktu yang sesuai dengan siswa-siswa lain pada umumnya.
Namun pada sisi lain ada siswa yang membutuhkan waktu lebih banyak untuk memproses informasi dan mempelajari suatu aktivitas gerak tertentu. Hal ini berarti dibutuhkan pengulangan secara menyeluruh dan peninjauan kembali semua aspek yang dipelajari.  Demikian juga halnya dalam praktek atau berlatih, sebaiknya diberikan waktu belajar yang berlebih untuk menguasai suatu keterampilan atau melatih keterampilan yang telah dikuasai
Contohnya bagi siswa yang memiliki hambatan mental dengan tingkat kecerdasan di bawah rata-rata, dia tidak dapat memproses informasi atau perintah yang diberikan dengan cepat, sehingga dia akan mengalami kesulitan dan sedikit membutuhkan waktu lebih banyak dalam melakukan kegiatan tersebut. Begitu pula dengan siswa yang memiliki hambatan motorik, mereka membutuhkan waktu yang lebih saat melakukan sebuah aktivitas jasmani karena hambatan yang dimilkinya.
Contoh kegiatannya, pada saat kegiatan berlari mengelilingi lapangan siswa yang lain di berikan alokasi waktu 2 menit untuk dapat mengelilingi lapangan, tetapi bagi siswa yang memiliki hambatan mental, motorik dan perilaku mungkin membutuhkan alokasi waktu 4 sampai 5 menit untuk dapat mengelilingi lapangan tersebut.
Jadi waktu yang diberikan kepada siswa yang memiliki hambatan  harus disesuaikan dengan kemampuan dan hambatan yang dimiliki oleh siswa tersebut, tetapi bukan erarti harus selalu lebih dari siswa lainnya karena pada kenyataanya ada siswa yang memiliki hambatan dapat menguasai pelajaran waktu yang dibutuhkannya sama dengan siswa lainnya. Sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Tarigan (2000;56) bahwa:
  dalam menghadapi siswa cacat perlu disediakan waktu yang cukup, baik lamanya belajar maupun pemberian untuk memproses informasi. Sebab dalam kenyataannya ada siswa yang cacat mampu menguasai pelajaran dalam waktu yang sesuai dengan rata-rata anak normal

4)        Modifikasi peraturan permainan
Memodifikasi peraturan permainan yang ada merupakan sebuah keharusan yang dilakukan oleh guru pendidikan jasmani agar program pendidikan jasmani bagi siswa berkebutuhan khusus dapat berlangsung dengan baik. Oleh karena itu guru pendidikan jasmani harus mengetahui modifikasi apa saja yang dapat dilakukan dalam setiap cabang olah raga bagi siswa berkebutuhan khusus.
Berikut ini ada beberapa cabang olahraga yang dimodifikasi peraturan permainannya  bagi siswa berkebutuhan khusus: 
a)        Atletik
Bagi beberapa siswa berkebutuhan khusus cabang olahraga altetik terutama cabang berlari ini tidak memerlukan begitu banyak penyesuaian, tetapi bagi siswa tunanetra dan siswa tunarungu sangat membutuhkan penyesuaian. Contoh penyesuaian yang dilakukan bagi siswa tunanetra saat mengikuti pembelajaran atletik adalah pada saat berlari siswa tunanetra memegang tali yang terbentang dari garis star sampai ke garis finish jadi saat berlari siswa tidak tersesat atau bertabrakan dengan siswa lainnya. Atau  cara  lain seperti  yang diungkapkan oleh Auxter (2005;) pada saat berlari siswa tunanetra diikuti oleh teman yang memiliki penglihatan normal  dari belakang dengan saling memegang tali. jadi pada saat harus berbelok ke kanan temannya menggerakan talinya kesebelah kanan dan itu menandakan berbelok ke sebelah kanan dan sebaliknya.
Peraturan atletik pada umumnya saat start di lakukan biasanya wasit membunyikan pistol atau peluit sebagai tanda dimulainya pertandingan tersebut. Tetapi bagi siswa tunarunggu hal tersebut tidaklah sesuai dengan keterbatasan mereka, maka diperlukan sedikit penyesuaian diantaranya dengan mengganti peluit atau pistol dengan alat yang dapat memberikan dilihat mereka contohnya seperti bendera. Jadi pada saat pertandingan dimulai wasit mengibaskan bendera sebagai tandanya.
b)      Basket
Dalam permainan bola basket bagi siswa berkebutuhan khusus diperlukan beberapa penyesuaian dan perubahan peraturan seperti:  pemain yang mengikuti permainan ini terdiri dari 6 orang atau lebih, diperbolehkan  melangkah dua atau tiga kali setelah menangkap bola. Bagi siswa tunadaksa yang menggunakan kursi roda  penyesuaian yang dilakukan dengan cara menurunkan tinggi ring dalam permainan.
Bagi siswa tunanetra bola yang digunakan harus mengeluarkan bunyi begitu pula dengan keranjang atau ringnya harus mengeluarkan bunyi agar dapat dikenali oleh para pemain. 
c)      Sepak bola
Permaiana sepakbola bagi kebanyakan siswa berkebutuhan khusus tidak terlalu banyak memerlukan penyesuaian, hanya ukuran lapangan yang harus di modifikasi karena siswa berkebutuhan khusus memiliki tingkat kekuatan atau kemampuan fisik yang lemah sehingga mudah kecapean.  Jadi mereka hanya bermain setengah  lapangan sepak bola besar atau lebih kecil lagi dari itu sesuai dengan kemampuan mereka.
Tetapi bagi siswa tunanetra ada beberapa penyesuaian yang dilakukan diantaranya bola dan gawang yang harus mengeluarkan bunyi agar bisa dikenali oleh mereka. Lapangan yang diperkecil serta tidak ada aturan  bola keluar.
Masih banyak lagi permainan atau cabang olahraga bagi siswa berkebutuhan khusus yang memerlukan penyesuaian.   
b.        Modifikasi Lingkungan Belajar
Dalam meningkatkan pembelajaran pendidikan jasmani bagi siswa yang berkebutuhan khusus maka suasana dan lingkungan belajar perlu dirubah sehingga kebutuhan-kebutuhan pendidikan siswa dapat terpenuhi secara baik untuk memperoleh hasil maksimal.
Adapun teknik-teknik memodifikasi lingkungan belajar siswa menurut Tarigan dalam Penjas adaptif (2000: 58) sebagai berikut:
1)        Modifikasi fasilitas dan peralatan
Memodifikasi fasilitas-fasilitas yang telah ada atau menciptakan fasilitas baru merupakan keharusan agar program pendidikan jasmani bagi siswa berkebutuhan khusus dapat berlangsung dengan sebagai mana mestinya.
Semua fasilitas dan peralatan tentunya harus disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh siswa. Oleh karena itu diperlukan sebuah modifikasi dan penyesuaian pada fasilitas dan peralatan yang akan digunakan oleh siswa berkebutuhan khusus. Ada beberapa modifikasi tersebut meliputi:
a)         Pengecatan, pengapuran atau memperjelas garis-garis pinggir atau batas lapangan
b)        Memperlebar lintasan agar dapat dilalui oleh kursi roda
c)         Mengubah atau menyesuaikan ukuran bola dalam permainan sepak bola dan voli ball
d)        Memodifikasi bola menjadi bercahaya dan berbunyi bagi siswa tunanetra
2)        Pemanfaatan ruang secara maksimal
Pembelajaran  pendidikan  jasmani identik diselenggarakan  di lapangan yang luas dimana semua siswa dapat berlari-lari kesana kemari, sampai – sampai terkadang guru akan kesulitan apabila lapangan yang luas tersebut tidak bisa digunakan dan mungkin akan mengganti program pembelajaran yang awalnya akan diselenggarakan di lapangan menjadi pembelajaran materi di dalam kelas. Padahal sebetulnya pembelajaran pendidikan dapat dilaksanakan dimana saja asalkan tidak membahayakan pembelajaran tersebut.
Pembelajaran pendidikan jasmani dapat dilakukan di dalam maupun di luar ruangan hal tersebut tergantung kreatifitas guru dalam merancang pembelajaran tersebut dengan baik. Seperti yang disampaikan oleh Tarigan (2000;60)  bahwa ‘ Seorang guru pendidikan jasmani harus selalu kreatif dan menemukan cara–cara yang tepat untuk memanfaatkan sarana yang teredia, sehingga menjadi suatu lingkungan belajar yang layak’.
3)        Menghindari gangguan dan pemusatan konsentrasi
Segala bentuk gangguan saat pembelajaran pendidikan jasmani dapat datang dari mana saja baik dari dalam  pembelajaran maupun luar pembelajaran. Gangguan tersebut dapat berupa kebisingan suara yang mengganggu konsentrasi, orang lain yang tidak berkepentingan berada di dalam lapangan, benda-benda yang dapat mengganggu jalannya pembelajaran, dan lain sebagainya.
Khusus bagi siswa yang mengalami gangguan belajar, hiperaktif dan tidak bisa berkonsentrasi lama, faktor-faktor tersebut merupakan gangguan  yang sangat berarti, namun bagi siswa siswa lainnya tidak terlalu mengganggu.
Semua faktor – faktor di atas, perlu dihilangkan atau dihindari semaksimal mungkin, agar para siswa dapat memusatkan perhatian dan berkonsentrasi pada tugas-tugas yang diberikan. Tarigan (2001:61) mengungkapkan bahwa
   Konsentrasi dan perhatian siswa dapat dialihkan dengan berbagai cara antara lain: pemberian instruksi dengan jelas dan lancar, dan guru harus memiliki antusiasme yang tinggi serta selalu ikut berpartisipasi aktif dalam pembelajaran  

Seperti apa yang diungkapkan oleh Tarigan di atas bahwa konsentrasi dan perhatian siswa dapat dialihkan dengan beberapa cara diantaranya pemberian instruksi dengan jelas dan lancar. Instruksi yang diberikan oleh guru kepada siswa harus jelas tanpa ada singkatan ataupun kata-kata yang dapat membuat siswa menjadi bingung, dan instruksi yang diberikan  harus utuh dan lancar jangan tersendat-sendat atau terputus-putus karena hal tersebut dapat menciptakan ruang bagi siswa untuk memalingkan perhatiannya.
Cara yang kedua adalah guru harus memiliki antusiasme yang tinggi serta selalu ikut berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Pada saat pembelajaran berlangsung guru harus dapat berperan aktif dalam setiap kegiatan yang dilakukan bersama-sama dengan siswa. Guru dengan siswa bersama-sama melakukan kegiatan jasmani dengan menunjukan semangat dan keceriaan yang dapat menarik perhatian siswa agar mau mengikuti kegiatan yang dilakuan.

Daftar Pustaka 

Faturohman, Taufik.(2010). Pembelajaran Pendidikan Jasmani Bagi Siswa Berkebutuhan Khusus (studi pendidikan jasmani di Sekolah penyelenggara pendidikan Inklusif). Bandung:UPI